TheViralz - Gusti Ayu Ketut Rai Subakti tak bisa menahan sedih saat memastikan keponakannya, Gusti Ayu Made Rai Suarni meninggal dunia setelah mengalami kecelakaan hebat di Jalan A Yani Utara, Banjar Pulugambang, Peguyangan, Denpasar, Bali, Selasa (22/3/2016) pagi.
Tangisnya pun pecah saat mengetahui kondisi tubuh keponakannya hancur terlindas sebuah truk pengangkut bahan bakar minyak (BBM) Pertamina berkapasitas 8.000 liter.
Wanita yang sehari-hari bekerja di Ruang Cempaka RSUP Sanglah ini pun segera menghubungi keluarga besarnya yang berada di Banjar Tegal, Desa Selat, Abiansemal, Badung.
“Saya kaget mendengar kabar bahwa keponakan saya meninggal, dan sangat sedih saat mendengar kabar bahwa tubuhnya benyah (hancur),” ujarnya saat ditemui di Instalasi Kedokteran Forensik RSUP Sanglah.
Mendengar kabar dari Subakti, keluarga Gusti Ayu Made Rai pun berdatangan.
Kakak korban yang enggan menyebutkan namanya langsung syok akan kejadian yang dialami adik bungsunya itu.
Ia mengeluh bahwa harus kehilangan anggota keluarganya dalam rentan waktu yang berdekatan.
“Dua bulan lalu, keluarga saya juga meninggal, sekarang adik juga ikut meninggalkan saya. Blank pikiran saya sekarang,” ujar pria itu sembari menggeleng-gelengkan kepala.
Informasi yang diperoleh Tribun Bali menyebutkan, pagi kemarin, Gusti Ayu Made Rai berboncengan dengan rekannya, I Nyoman Suparta menggunakan motor Honda Vario bernopol DK 6191 FN.
Keduanya usai mengurus dana veteran di Taspen.
Saat tiba di Jalan A Yani Utara, motor yang dikendarai Suparta ini mencoba mendahului truk tangki Pertamina bernopol DK 9506 HE dari lajur kiri.
Saat hendak menyalip itu, tiba-tiba di depan motor ada tumpukan pasir, sehingga spontan motor ngerem mendadak.
Akibatnya, motor sempat oleng, dan Gusti Made Rai terjatuh ke arah kanan, tepat di bawah ban truk tangki Pertamina yang dikemudikan Ketut Buda, warga Sembung, Tabanan.
Kecelakaan pun tak terhindar.
Tubuh Gusti Made Rai dilindas ban truk tersebut.
Perempuan yang masih bajang wayah itu pun meninggal di lokasi kejadian.
“Organ tubuh keluar semua. Saya lihat organ tubuh sudah berceceran,” ujar Made Muliawan, yang tinggal di dekat lokasi kejadian.
Ia katakan, tak ada suara benturan keras saat terjadi kecelakaan itu.
Hanya terdengar seperti suara batok kelapa yang pecah.
“Mendengar itu anak saya keluar melihat ke jalan, lalu dia bilang ada orang meninggal, langsung saya menjajaki keluar. Helmnya terpental ke utara, kira-kira 20 meter lah,” ujarnya.
Ia melihat banyak warga yang ngemekelin (memberi uang) korban di TKP sebelum diangkat BPBD Kota Denpasar sebagai wujud mendoakan agar arwahnya kembali ke tempat yang semestinya.
“Ngemekelin uang, ini kan sebagai wujud doa, mendoakan agar arwahnya kembali ke tempat semestinya. Karena kan sekarang badan kasarnya sudah hilang, pang ten paling (biar tidak bingung) badan halusnya, makanya saya termasuk beberapa warga ngemekelin,” ujarnya.
Menurutnya, sudah ada dua kejadian kecelakaan lalu lintas di lokasi dekat setra Peguyangan ini dalam tiga bulan terakhir.
“Dahulu di tempat yang sama juga pernah ada anak kecil menabrak hardtop (jeep Toyota Hardtop). Itu kurang lebih 3 bulan yang lalu, tempatnya percis sama,” jelasnya.
Kasubdit Laka Polresta Denpasar, Iptu Wayan Budiana mengatakan, dari olah TKP, penyebab kecelakaan diduga karena mencoba mendahului truk dari jalur kiri.
Selain itu, juga saat menyalip ada tumpukan pasir yang menyebabkan motor mengerem mendadak. “Pengendara pembonceng menyalip dari kiri, ada pasir jadi mengerem mendadak. Seketika korban yang dibonceng jatuh ke kanan,” jelas Budiana.
Ketut Buda, sopir truk tangki Pertamina mengatakan, laju truk yang dikendarainya pelan. Ia tak sadar jika ada orang yang terlindas truknya.
Hanya saja, dari spion kiri ia melihat ada motor hendak menyalip.
“Motor menyalip dari kiri, setelah itu saya tidak tahu. Saya suruh kernet melihat ke spion kiri, kenapa orang bawa motor Vario itu? Saya itu dalam keadaan pelan-pelan, lalu seketika ada orang jatuh saya langsung berhenti,” ujarnya.
Nyoman Suparta, rekan Gusti Made Rai mengatakan, ketika berkendara ada pasir, dan saat ia mengerem, maka kendaraan oleng dan korban jatuh ke kanan.
“Saya jalan pelan-pelan. Saya ada di sekitar ban belakang truk. Lalu ada pasir langsung saya mengerem, lalu korban jatuh ke kanan, kejadiannya cepat sekali,” ujarnya yang masih tampak syok.
Sumber : http://bali.tribunnews.com
Tangisnya pun pecah saat mengetahui kondisi tubuh keponakannya hancur terlindas sebuah truk pengangkut bahan bakar minyak (BBM) Pertamina berkapasitas 8.000 liter.
Wanita yang sehari-hari bekerja di Ruang Cempaka RSUP Sanglah ini pun segera menghubungi keluarga besarnya yang berada di Banjar Tegal, Desa Selat, Abiansemal, Badung.
“Saya kaget mendengar kabar bahwa keponakan saya meninggal, dan sangat sedih saat mendengar kabar bahwa tubuhnya benyah (hancur),” ujarnya saat ditemui di Instalasi Kedokteran Forensik RSUP Sanglah.
Mendengar kabar dari Subakti, keluarga Gusti Ayu Made Rai pun berdatangan.
Kakak korban yang enggan menyebutkan namanya langsung syok akan kejadian yang dialami adik bungsunya itu.
Ia mengeluh bahwa harus kehilangan anggota keluarganya dalam rentan waktu yang berdekatan.
“Dua bulan lalu, keluarga saya juga meninggal, sekarang adik juga ikut meninggalkan saya. Blank pikiran saya sekarang,” ujar pria itu sembari menggeleng-gelengkan kepala.
Informasi yang diperoleh Tribun Bali menyebutkan, pagi kemarin, Gusti Ayu Made Rai berboncengan dengan rekannya, I Nyoman Suparta menggunakan motor Honda Vario bernopol DK 6191 FN.
Keduanya usai mengurus dana veteran di Taspen.
Saat tiba di Jalan A Yani Utara, motor yang dikendarai Suparta ini mencoba mendahului truk tangki Pertamina bernopol DK 9506 HE dari lajur kiri.
Saat hendak menyalip itu, tiba-tiba di depan motor ada tumpukan pasir, sehingga spontan motor ngerem mendadak.
Akibatnya, motor sempat oleng, dan Gusti Made Rai terjatuh ke arah kanan, tepat di bawah ban truk tangki Pertamina yang dikemudikan Ketut Buda, warga Sembung, Tabanan.
Kecelakaan pun tak terhindar.
Tubuh Gusti Made Rai dilindas ban truk tersebut.
Perempuan yang masih bajang wayah itu pun meninggal di lokasi kejadian.
“Organ tubuh keluar semua. Saya lihat organ tubuh sudah berceceran,” ujar Made Muliawan, yang tinggal di dekat lokasi kejadian.
Ia katakan, tak ada suara benturan keras saat terjadi kecelakaan itu.
Hanya terdengar seperti suara batok kelapa yang pecah.
“Mendengar itu anak saya keluar melihat ke jalan, lalu dia bilang ada orang meninggal, langsung saya menjajaki keluar. Helmnya terpental ke utara, kira-kira 20 meter lah,” ujarnya.
Ia melihat banyak warga yang ngemekelin (memberi uang) korban di TKP sebelum diangkat BPBD Kota Denpasar sebagai wujud mendoakan agar arwahnya kembali ke tempat yang semestinya.
“Ngemekelin uang, ini kan sebagai wujud doa, mendoakan agar arwahnya kembali ke tempat semestinya. Karena kan sekarang badan kasarnya sudah hilang, pang ten paling (biar tidak bingung) badan halusnya, makanya saya termasuk beberapa warga ngemekelin,” ujarnya.
Menurutnya, sudah ada dua kejadian kecelakaan lalu lintas di lokasi dekat setra Peguyangan ini dalam tiga bulan terakhir.
“Dahulu di tempat yang sama juga pernah ada anak kecil menabrak hardtop (jeep Toyota Hardtop). Itu kurang lebih 3 bulan yang lalu, tempatnya percis sama,” jelasnya.
Kasubdit Laka Polresta Denpasar, Iptu Wayan Budiana mengatakan, dari olah TKP, penyebab kecelakaan diduga karena mencoba mendahului truk dari jalur kiri.
Selain itu, juga saat menyalip ada tumpukan pasir yang menyebabkan motor mengerem mendadak. “Pengendara pembonceng menyalip dari kiri, ada pasir jadi mengerem mendadak. Seketika korban yang dibonceng jatuh ke kanan,” jelas Budiana.
Ketut Buda, sopir truk tangki Pertamina mengatakan, laju truk yang dikendarainya pelan. Ia tak sadar jika ada orang yang terlindas truknya.
Hanya saja, dari spion kiri ia melihat ada motor hendak menyalip.
“Motor menyalip dari kiri, setelah itu saya tidak tahu. Saya suruh kernet melihat ke spion kiri, kenapa orang bawa motor Vario itu? Saya itu dalam keadaan pelan-pelan, lalu seketika ada orang jatuh saya langsung berhenti,” ujarnya.
Nyoman Suparta, rekan Gusti Made Rai mengatakan, ketika berkendara ada pasir, dan saat ia mengerem, maka kendaraan oleng dan korban jatuh ke kanan.
“Saya jalan pelan-pelan. Saya ada di sekitar ban belakang truk. Lalu ada pasir langsung saya mengerem, lalu korban jatuh ke kanan, kejadiannya cepat sekali,” ujarnya yang masih tampak syok.
Sumber : http://bali.tribunnews.com
Tubuh Gusti Ayu Benyah Dilindas Truk, Tangisan Pilu Pecah di RSUP Sanglah
4/
5
Oleh
Unknown
